Pembiayaan Sektor Mikro dan Pembiayaan Corporate
Pembiayaan sektor mikro merupakan pembiayaan yang diberikan kepada pengusaha mikro. Saat ini pembiayaan sektor mikro sudah semakin kompetitif dibandingkan dengan pembiayaan lainnya. Rencana Bank Umum Syariah (BUS) memperbesar pembiayaan sektor mikro dinilai mengancam Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Membesarnya pembiayaan sektor mikro berdampak pada semakin kompetitifnya margin. BPRS mengakui pihaknya kesulitan menentukan pricing produk pembiayaan untuk dapat bersaing dengan BUS. Lantaran hal itu, BPRS dituntut lebih kreatif dalam membuat produk dan pelayanan. Penyaluran pembiayaan dari BUS sebetulnya dapat melalui kerjasama dengan BPRS dengan skema executing atau channeling. Sayangnya, BUS lebih memilih kerjasama dengan skema executing dimana resiko gagal dari pembiayaan harus ditanggung BPRS. Dengan kata lain, BUS yang menggunakan sektor pembiayaan mikro tidak tertarik untuk menggunakan skema channeling karena BUS tidak mau menanggung resiko.
Sedangkan pembiayaan corporate didefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerinyah, karyawan serta para pemegang keppentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Pembiayaan corporate umunya berusaha lebih dari satu jenis usaha pembiayaan ,itu semua sering disebut dengan perusahaan multifinance. Pembiayaan corporate merupakan salah satu badan usaha yang melaksanakan kegiatan usaha dari lembaga pembiayaan, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan dam memaksimumkan kekayaan pemilik perusahaan.
· Manakah dari kedua pembiayaan tersebut yang lebih menguntungkan?
Menurut Saya, pembiayaan sektor mikro lebih menguntungkan dibandingkan dengan pembiayaan sektor corporate karena sebagian masyarakat Indonesia adalah pelaku usaha mikro. Jadi, apabila masyarakat Indonesia sendiri dapat mengembangkan para pelaku usaha-usaha mikro tersebut maka secara tidak langsung kita dapat membantu dalam meningkatkan sektor perekonomian di Indonesia.
Hal ini justru berbanding terbalik dengan pembiayaan corporate yang mempunyai banyak resiko, karena perusahaan pembiayaan corporate bukan merupakan lembaga intermediari yang dapat menghimpun dana dari masyarakat secara langsung, sehingga perusahaan pembiayaan mendapatkan dana sebagai sumber pembiayaannya dari pinjaman bank dan lembaga keuangan, maupun dari penerbitan surat berharga seperti obligasi. Dalam hal pendanaan yang disalurkan kepada konsumen.
· Apa saja tantangan dari kedua sektor pembiayaan tesebut?
Tantangan Pembiayaan Mikro :
* Lembaga Keuangan
– Mampu mengenali karakteristik pasar
– Melakukan cost monitoring
– Produk/jasa market driven
– Keterbatasan sumber dana jangka panjang
* Kelemahan Institutional Capacity Building
– Peran Bank/LK hanya salah satu sub-sistem
– Capacity building sektor UMKM yang merupakan pra-syarat sering
diabaikan.
Tantangan Pembiayaan Corporate :
- Risiko perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan pokok
utang.
- Pembentukannya membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
- Kepemilikannya yang dapat berpindah-pndah secara mudah.
· Referensi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar