Pengelolaan Sampah untuk Mengurangi Dampak Negatifnya terhadap Lingkungan
Oleh Ade Fajar Kurniawati
Sampah adalah semua benda atau produk sisa dalam bentuk padat sebagai akibat aktivitas manusia yang dianggap tidak bermanfaat dan tidak dikehendaki oleh pemiliknya atau dibuang sebagai barang tidak berguna. Aktivitas keseharian kita memproduksi banyak sampah, sejak bangun pagi, buka pintu, mulai membuang sampah, saat sarapan pagi, makan siang, makan malam, menyisakan sampah. Sampai larut malam menyaksikan TV kita masih memproduksi sampah, bahkan akan berangkat tidurpun masih juga mengeluarkan sampah. Sampah yang kita hasilkan tidak hanya berasal dari makanan serta bungkusnya, tapi juga berbagai aktivitas yang kita lakukan. Kehadiran sampah memang menyebalkan, menjijikkan, mengganggu udara dan penciuman, mengganggu pemandangan dan yang paling buruk mengganggu kesehatan.
Sampah yang merupakan material sisa kehadirannya selalu tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses, proses di tubuh, di dapur, di pabrik atau di lingkungan sekitar kita. Saat ini sebagian besar wilayah di Indonesia telah tercemari oleh tumpukan sampah dimana-mana, sehingga menyebabkan lingkungan yang kotor dan mudah terjangkit berbagai penyakit. Secara umum, sampah yang ditemukan pada TPA merupakan sampah organic yang mudah terurai sebesar 60-70 persen. Sampah ini terdekomposisi dengan adanya limpasan air hujan bentuk lindi (air sampah), bau menyengat dan gatal apabila terkena kulit. Tumpukan sampah yang beraneka ragam menjadikan lindi mengandung logam berat, salah satu bahan beracun. Banyak material sampah membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai oleh alam. Persoalan sampah tidak hanya menyangkut problem sampah, namun menyangkut perilaku dan budaya masyarakat itu sendiri. Perilaku buruk masyarakat harus terus diingatkan bagaimana memperlakukan sampah sebagaimana mestinya. Bila hal ini terabaikan, baying-bayang bencana banjir dan penyakit akan terus menghantui disetiap pergantian musim.
Salah satu wilayah yang banyak ditemukan tumpukan sampah adalah wilayah ibukota. Didaerah pinggiran kota banyak sekali ditemukan tumpukan sampah yang menimbulkan bau busuk. Sampah-sampah tersebut berasal dari barang-barang kebutuhan hidup manusian yang dianggap sudah tidak bermanfaat oleh pemiliknya. DKI Jakarta adalah kota yang terdiri atas gedung-gedung bertingkat didalamnya. Hampir sebagian wilayah Jakarta dipadati oleh gedung-gedung pencakar langit sehingga Jakarta hanya memiliki sedikit lahan kosong yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh warga Jakarta itu sendiri sebagai tempat pembuangan sampah (TPS). Selain itu, kebiasaan warga lainnya adalah membuang sampah ke sungai. Mereka tidak pernah berpikir panjang terhadap dampak yang suatu saat dapat terjadi akibat kebiasaan buruk tersebut dan mereka hanya berpikir bagaimana caranya agar sampah-sampah tersebut tidak menumpukdi rumah mereka yaitu dengan cara dibuang ke aliran sungai agar terbawa hanyut oleh air yang deras. Akibatnya, sungai tersumbat dan timbul lah banjir.
Sampah merupakan musuh terbesar lingkungan. Sampah dari berbagai sumber dapat mencemari lingkungan, baik lingkungan darat, udara maupun perairan. Pencemaran darat yang dapat ditimbulkan oleh sampah misalnya sebagai tempat bersarang dan menyebarnya bibit penyakit. Salah satu bentuk pencemaran udara yang ditimbulkan oleh sampah misalnya mengeluarkan bau yang tidak sedap,debu dan gas-gas beracun. Selaini tu, bentuk pencemaran pada perairan yang ditimbulkan oleh sampah misalnya terjadinya perubahan warna dan bau pada air sunga. Ditinjau dari segi kesehatan, tempat-tempat penumpukan sampah merupakan lingkungan yang baik bagi hewan penyebar penyakit seperti lalat, kecoa, nyamuk tikus dan bakteri pathogen. Adanya hewan-hewan penyebar penyakit tersebut mudah tersebar dan menjalar ke lingkungan sekitar sehingga akan memudahkan membantu penularan penyakit seperti diare,thypus,cholera,disentri, malaria, dll.
Selain menimbulkan dampak negatif pada berbagai segi kehidupan diatas, sampah juga memiliki dampak negatif terhadap keadaan social dan ekonomi di masyarakat. Ditinjau dari segi sosial, permasalahan sampah dapat berkaitan dengan nilai kerukunan. Orang yang sering membuang sampah disekitar tempat tinggalnya dan mencemari lingkungan dapat menimbulkan ketidaksenangan tetangganya. Hal ini dapat menimbulkan keretakan hubungan antara tetangga. Sedangkan ditinjau dari segi ekonomi, pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana. Selain itu, pengelolaan sampah yang tidak memadai akan menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan-pembiayaan secara langsung yaitu untuk mengobati orang sakit dan pembiayaan secara tidak langsung yaitu tidak mau bekerja sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas.
Untuk mencegah berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh keberadaan sampah yang melampaui batas, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan sampah agar tidak semakin merugikan mahluk hidup dan lingkungan sekitar. Sampah sebaiknya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) untuk dikelola lebih lanjut. Untuk sampai ke TPA perlu mekanisme penanganan yang terpadu. Bermula dari sampai yang dikumpulkan di rumah kemudian dibuang di TPS (Tempat Pembuangan sementara) yang selanjutnya diangkut ke TPA untuk dikelola lebih lanjut.
Pengelolaan sampah sendiri didefinisikan sebagai pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan atau pembuangan dari material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan dan keindahan. Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal. Pengelolaan sampah merupakan proses yang bertujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Tiga metode yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah yaitu dengan menggunakan metode pembuangan, daur ulang serta metode penghindaran/pengurangan.
Dalam metode pembuangan dapat dilakukan dengan cara penimbunan darat dan pembakaran/pengkremasian. Proses penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang ditinggalkan, lubang bekas pertambangan atau lubang-lubang dalam. Sedangkan dalam proses pembakaran adalah menggunakan metode yang melibatkan pembakaran zat sampah. Metode daur ulang itu sendiri didefinisikan sebagai proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali. Dalam metode ini cara yang paling mudah digunakan adalah dengan mengambil atau mengumpulkan sampah yang telah dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Metode berikutnya yang digunakan pada proses pengelolaan sampah adalah dengan menggunakan metode penghindaran dan pengurangan. Pada metode ini, proses pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan cara meminimalisasi sampah.
Pengelolaan sampah yang dilakukan dengan baik tentu akan sangat bermanfaat terhadap keadaan lingkungan. Lingkungan akan menjadi asri, bersih dan sehat sehingga terasa semakin nyaman untuk dihuni oleh mahluk hidup, khususnya manusia. Selain itu, pengelolaan sampah sangat bermanfaat terhadap penghematan sumber daya alam, energy dan lahan TPA. Upaya tersebut dapat dimulai melalui hal kecil yaitu dengan cara membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan kecil tersebut akan sangat terasa sangat bermanfaat terhadap kelestarian lingkungan sekitar kita agar lingkungan kita dapat terhindar dari berbagai bencana, seperti banjir dan tanah longsor. Melihat sulitnya material sampah terurai, perlu memberikan pendidikan atas perilaku buruk yang telah dilakukan selama ini, masyarakat dapat imbauan, diajak dan diberikan informasi yang tepat dan menarik dengan penyediaan sarana dan prasarana, serta penegakan hokum yang tegas. Diberikan pengertian bagai mana warga bersikap berani menegur orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Sehatnya suatu kota maupun desa tergantung bagaimana masyarakat memperlakukan sampah. Bilamana sampah masih berserakan dimana-mana, pertanda dikawasan tersebut tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih rendah pastilah lingkungan belum sehat. Oleh karena itu, sangat diperlukan kesadaran dari setiap individu untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar